BKBPM Revitalisasi Kelurga Berencana

Untuk mengingatkan atau menyadarkan warga masyarakat tentang pentingnya Keluarga Berencana (KB), Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Masyarakt (BKBPM) Kota Malang akan merevitalisasi program KB. Hal ini dilakukan agar masyarakat mau dan tidak malu mengakui saat menggunakan atau menjadi peserta KB, terutama kaum laki-laki. Karena yang terjadi saat ini kaum lelaki terkesan malu untuk ber-KB.

Program revitalisasi ini meliputi pelayanan kontrasepsi dan ketahanan keluarga. Ada banyak pilihan KB yang ditawarkan kepada warga masyarakat, seperti, IUD, MOW, MOP, Implan, pil, kondom dan suntik. Setiap individu diberi kebebasan dalam memilih kontrasepsi ini, karena masing-masing mempunyai kelebihan dan kelemahan. Dalam hal ini BKBPM akan terus mensosisalisasikan berbagai macam kontrasepsi itu kepada warga Kota Malang, mengenai kelebihan, kelemahan, cara pemakaian dan aturan lainnya.
Menurut Kepala Bidang KB BKBPM Kota Malang, I Nyoman Sedana, kesadaran KB warga Kota Malang selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, baik peserta KB aktif maupun peserta KB baru, terutama untuk pengguna IUD, pil dan suntik. “Hal itu terbukti selama triwulan pertama tahun 2011 peserta KB aktif IUD dari target 18.759 tercapai 21.938. suntik, dari target 26.954 tercapai 40.282 dan pil dari target 7.144 tercapai 14.124,” ujar Nyoman saat ditemui di ruang kerjanya.
Lebih lanjut Nyoman memaparkan, begitu juga untuk peserta KB baru, untuk IUD selama triwulan pertama 2011, dari target 3.410 tercapai 3.163. Suntik dari target 3.999 tercapai 9.008 dan pil dari target 8000 tercapai 2.965. “Dari data tersebut merupakan bukti nyata kesadaran warga masyarakat Kota Malang dalam ber-KB. Ini adalah hasil kerjasama dan kerja keras semua elemen serta para petugas KB hingga ke tingkat RT. Tanpa itu semua kita tidak mungkin memperoleh angka-angka itu,” sambungnya.
Nyoman menambahkan, sebelum menggunakan KB, kami dari BKBPM juga mensosialisakan mengenai pernikahan, seperti halnya usia pernikahan sesuai dengan peraturan pemerintah. “Hal itu agar masyarakat tahu dan tidak melakukan pernikanan di usia dini, karena menurut aturan, untuk wanita usianya minimal 20 tahun dan untuk laki-laki 25 tahun. Dengan mengikuti salah satu aturan pernikahan itu juga akan berpengaruh terhadap anak yang akan dilahirkan dan juga dalam penggunaan kontrasepsi,” imbuhnya.
“Jika seorang perempuan menikah dan hamil di usia muda (sebelum 20 tahun_red) maka akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan rumah tangganya, terutama saat memutuskan untuk hamil. Disamping kurang siapnya rahim faktor kematangan seorang wanita terkadang masih belum maksimal. Apabila rahim faktor kesiapannya kurang tentunya juga akan berpengaruh pada anak yang akan dilahirkan nantinya. Selain itu, saat menikah pada usia muda, pasangan pengantin baru cenderung masih labil dalam menghadapi dan menyikapi berbagai permasalahan rumah tangga,” kata pria berkumis tebal ini.
Nyoman berharap warga masyarakat bisa tahu dan menyadari hal itu, dan untuk mensosialisasikan itu kami juga bekerjasama dengan Kantor Urusan Agama (KUA) yang ada di Kota Malang. “Kami harus menyampaikan semuanya mengenai aturan maupun larangan mengenai pernikahan itu. Untuk prakteknya kami tidak bisa memaksakan, yang penting kita terus memberitahukan semuanya dengan gamblang. Karena tidak bisa dipungkiri, warga masyarakat yang ada di pedalaman/pedesaan cenderung melaksanakan pernikahan di usia muda,” pungkas Nyoman.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...