Disiksa, Mantan Napi Lapor Dewan

Kekerasan, berupa pemukulan, dan pungutan liar (pungli) kini terungkap di lingkungan Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas 1 A Lowokwaru, Kota Malang. Hal itu diungkap oleh mantan narapidana yang baru keluar Rabu 1 Juni 2011 lalu. Ia adalah Djoko Suratno (47), warga Pulo Kedungsari V/12 Surabaya.

Djoko masuk lapas awalnya di Polwiltabes Surabaya sejak 1 Juni 2009, atas kasus penipuan sewa mobil rental milik Yasin di Surabaya. Dia divonis selama 2 tahun oleh Pengadilan Negeri Surabaya dan dijerat pasal 372 KUHP. “Saya sewa mobil, lalu dipinjam teman dan dibawa lari. Karena pelakunya tidak ditemukan, sehingga saya yang ditahan atas kasus penipuan. Si pelaku yang juga teman saya itu lari hingga kini tak tertangkap,” cerita Djoko, kepada wartawan, di kantor DPRD Kota Malang.
Djoko mengadu ke wakil rakyat yang ada di kantor DPRD Kota Malang, terkait kasus yang menimpa dirinya selama di dalam Lapas Lowokwaru, Malang. Baik berupa penyiksaan kepada dirinya, dan juga pungutan liar yang masih marak terjadi di lapas setempat. Di kantor dewan, Djoko ditemui oleh anggota Fraksi PDIP, Abdul Hakim dan Tri Yudiani, di ruang Fraksi PDIP. Di depan dua wakil rakyat itu, Djoko menyampaikan apa yang menimpa pada dirinya selama di dalam Lapas Lowokwaru. Menurut Abdul Hakim pihaknya akan menelusuri kebenaran pengaduan Djoko itu sebelum mengambil langkah-langkah konkret.
Djoko dipindah ke Lapas Kelas 1 A Lowokwaru Kota Malang pada 7 November 2009 lalu. Setelah beberapa bulan menghuni Lapas Lowokwaru, pada 24 Agusus 2010 Djoko mendapat perlakuan kasar dari pihak petugas lapas. Kekerasan itu muncul berawal dari keluhan dari para napi terkait iuran yang diminta oleh pihak lapas. Iuran tersebut senilai Rp 75 ribu masing-masing kamar, untuk membeli pipa air PDAM yang ada di dalam lapas setempat.
“Masing-masing kamar diminta iuran senilai Rp 75 ribu. Karena setiap kamar penghuninya banyak, maka ditarik dari masing-masing penghuni. Setelah para napi membayar, lalu dibelikan pipa oleh petugas. Namun air PDAM-nya tetap mati dan tak mengalir meski sudah membayar. Djoko mendapat keluhan dari para napi terkait air PDAM yang masih saja belum mengalir itu. Saat itu para napi sangat membutuhkan air, karena bertepatan dengan bulan Ramadhan. Ada yang akan berbuka puasa, airnya tidak ada. Napi tidak bisa mandi dan juga minum,” katanya.
Setelah Djoko menyampaikan aspirasi keluhan para napi tentang air PDAM yang tak mengalir itu, malah ditanggapi berbeda oleh petugas Lapas. “Saya dipanggil oleh Staf Kepala Lapas Haris Jayadi. saya diperiksa. Setelah diperiksa, tiba-tiba saya dipukul dan dilempar asbak. Saat dipanggil ke ruang Staf KPLP itu disaksikan oleh Sukmawan, petugas Lapas dan Dany, salah satu Tamping Lapas (anggota Napi yang dipercaya membantu petugas Lapas). Punggung saya dipuku selang air berkali-kali, lalu dilempar asbak hingga pelipis saya sobek,” akunya.
Saat diperiksa oleh Haris Jayadi, Djoko dinilai sebagai provokator dan diminta untuk tidak menjadi provokator selama berada di lapas berkumpul dengan napi lainnya. “Setelah dipukul, kaos saya penuh dengan darah dan berceceran di lantai lapas. Setelah selesai disiksa di ruangan Staf Kalapas itu, saya langsung dimasukkan ke sel pelanggaran yang luasnya hanya 2×2, di Blok 12, kamar 20,” lanjut Djoko
Hingga saat ini, kata Djoko, masih banyak napi yang disel di ruang khusus napi yang melanggar itu dan selalu mendapat siksaan, dan saya disel di ruang itu selama 6 bulan. “Setelah keluar dari sel pelanggaran itu, saya masih menerima penyiksaan lagi oleh petugas tamping. Saat itu saya difitnah telah merampas uang milik napi lainnya. Padahal saya tidak merampas, tapi pinjam uang senilai Rp 10 ribu kepada Sholeh. Namun, karena tak membayar tepat waktu, napi lain melaporkan perampasan ke petugas Lapas,” imbuhnya.
“Lalu saya kembali dipanggil lagi dan disiksa lagi oleh petugas tamping di depan Blok 13 kamar 20. Saat itu saya dipukul dengan selang air hingga tulang rusuk saya patah. Saat itu, saya langsung tak bisa bernafas. Akhirnya, saya dilarikan ke ruang pengobatan di dalam Lapas. Kata pihak Lapas sudah memvisum tulang rusuk saya yang patah itu. Tapi sampai saya keluar, tak diberi tahu hasil visumnya,” sesal Djoko.
Djoko menambahkan, dalam waktu dekat ia akan melaporkan kasus ini ke Polda Jatim terkait kekerasan, remisi yang tak diberikan kepada napi, dan maraknya pungutan liar di dalam lapas. Saat wartawan mendatangi Lapas Lowokwaru, belum bisa menemui Kalapas, H. Wibowo Joko Harjono. Salah satu petugas Lapas setempat, Pendik, anggota Polsuspas mengaku, bahwa Kalapas sedang tidak ada di kantor.
“Sejak pagi, Bapak pergi ke Kanwil Depkumham Jawa Timur. Jadi, sekarang sedang tak ada di kantor. Kami tak berani memberikan tanggapan soal kasus tersebut. Itu kebijakan atasan saya,” katanya. Sementara itu, Kalapas Lowokwaru, kelas 1 A, Malang, H. Wibowo Joko Harjono saat dihubungi via telepon mengaku, kejadian tersebut tak pernah ada di dalam Lapas Lowokwaru. Menurut Joko, kalau memang ada buktinya, silahkan melapor. Lapas Lowokwaru ini terbaik nasional dan tidak mungkin melakukan tindakan kekerasan kepada para napi.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...