Kampung Keramik Adakan Festival

Kampung Dinoyo yang dikenal sebagai Kampung Keramik di Kota Malang terus berusaha meraih kembali masa kejayaannya. Mereka menggelar Festival Keramik Dinoyo yang diadakan selama 4 hari. Dengan adanya acara ini, maka ke depan indsutri keramik yang berada di jalan MT.Haryono gang IX Kota Malang ini akan menjadi kampung wisata keramik.

Ada sekitar 40 pengrajin keramik yang ambil bagian dalam Festival Keramik Dinoyo. 28 di antaranya adalah pengrajin keramik dari Dinoyo sendiri, sedangkan 12 yang lain merupakan pengrajin dari kampung lain yang ada di Malang Raya. "Selain itu, untuk meramaikan festival ini kami juga mengajak 12 UKM (usaha kecel menengah-red) non keramik dan 12 kuliner khas Malang untuk ikut berpameran di sini,"ujar ketua paguyuban pengrajin kermaik Dinoyo, Samsul Arifin.
Kerajinan keramik Dinoyo tumbuh dan berkembang secara turun temurun. Dan ini sudah dimulai dari keberadaan kerajinan gerabah yang ada di daerah ini sejak jaman penjajahan. Dan semua catatan dan foto tentang keberadaan keramik Dinoyo dari masa ke masa tersimpan di museum keramik yang juga ikut dipamerkan. Bahkan pihak panitia telah menyiapkan pemutaran film berisi sejarah perjalanan Keramik Dinoyo yang bisa ditonton pengunjung faestival.
Keramik Dinoyo kembali mengalami keterpurukan ketika Bangsa Indonesia terkena badai krisis moneter di tahun 1998. Saat itu Keramik Dinoyo terkena dampak dari melambungnya harga bahan bakar. Akibatnya, banyak pabrik keramik yang berjalan di tempat karena tak memiliki dana membeli bahan bakar untuk menyalakan tungku pembakaran keramik.
Dengan adanya masa peralihan dari minyak gas ke elpiji, maka dengan terpaksa para pengrajin harus kembali berinvestasi. Mereka harus mengeluarkan uang untuk mengganti sistem pembakaran keramik yang semula menggunakan minyak tanah menjadi menggunakan elpiji.
Di era kebangkitan sekarang, para pengrajin tidak mau kembali mengalami keterpurukan. Dengan dibantu Dinas Pariwisata Kota Malang, mereka bertekad menjadikan kampung mereka sebuah kampung wisata keramik. Dimana, selain bisa membeli keramik langsung ke pengrajinnya, pengunjung juga bisa melihat proses pembuatan kerajinan keramik ini. Harga yang ditawarkan juga beragam. "Dari keramik kecil yang hanya berharga Rp 3000 sampai keramik besar seharga Rp 600.000 tersedia di sini,"tambah Samsul Arifin.


Dibuka Walikota dan Tarian Bajingkrak Melayu


Disambut tari Bajingkrak Melayu yang ditarikan empat gadis cantik, berkulit putih bermata biru, Festival Keramik Dinoyo dibuka secara resmi oleh Walikota Malang Drs. Peni Suparto, M.AP.
Dengan tarian yang diambil dari kisah ekpedisi Pamalayu, yang merupakan cerita legendaris dari masa Kerajaan Kanjuruhan, saat dipimpin Raja Gajayana,  besar harapan pameran, Kamis (30/6) sampai dengan Minggu (3/7) itu bisa mengankat lagi pamor Keramik Dinoyo.
Bukan hanya itu, untuk menyemangati para peserta yang berpameran Peni juga menandatangani keramik dengan namanya. Seraya meminta buah karyanya itu nanti dikirim ke rumah agar bisa menjadi kenangan indah.
Peni menceritakan, ketika masih zaman Kerajaan Kanjuruhan Berjaya dahulu, ada utusan dari China datang ke Malang tepatnya di Dinoyo yang kala itu merupakan pusat Kerajaan Kanjuruhan. Sebagai oleh-oleh untuk kerajaan, saat itu utusan yang disebut orang Jawa dengan panggilan Doro Petak (gadis cantik berkulit putih) saat itu dibawakanlah oleh-oleh gerabah indah buatan Dinoyo.
“Di Dinoyo ini merupakan kerajaan besar Kanjuruhan, dalam suatu kerajaan besar kala itu pasti ada pembuat gerabah. Dan inilah yang hingga saat ini menjadi cikal bakal kerajinan keramik di Dinoyo,” jelas Peni, Kamis (30/6).
Begitu bersejarahnya kawasan Dinoyo, Peni menyebutkan sesuatu yang tepat tempat ini dijadikan kampung wisata keramik. Kualitas keramik Dinoyo sangat bagus, tidak kalah dengan keramik buatan luar negeri, seperti Hongaria maupun Jepang.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang, Ida Ayu Made Wahyuni mengakui tujuan diadakannya Festival Keramik Dinoyo ini memang untuk promosi Keramik Dinoyo sebagai kampung wisata. Yang kedua untuk memotivasi para perajin di Keramik Dinoyo, agar terus berinovasi biar usahanya bisa sejaya era 70 hingga 80-an dahulu. Dimana dulu kampung ini di masa jayanya warga kampung ini bisa membeli apapun, mulai dari rumah, tanah hingga, perhiasan, bahkan ibaratnya istripun bisa beli, karena begitu suksesnya kampung ini.
“Sekarang untuk menyukseskan kampun Keramik Dinoyo lagi, harus digali ide-ide baru untuk membuat keramik produksi tempat ini semakin bervariasi dan lebih menarik,” kata Ida.
Ketua Paguyuban Pedagang Keramik Dinoyo, Syamsul Arifin mengatakan ada 52 stan keramik dalam festival yang baru pertama kali digelar ini. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan bisa menjadi promosi yang bagus bagi Keramik Dinoyo, yang kualitasnya sudah diakui dunia Internasional.
“Bagi pengunjung festival ini, selain dapat mengamati langsung keramik-keramik buatan sini, pengunjung diberi tiket berupa lempung yang bisa dicetak menjadi berbagai kerajinan gerabah. Buatan 10 pengunjung terbaik akan diberi hadiah,” ujar Syamsul.
Pengunjung asal Jakarta, Talita mengakui sengaja mengunjungi Festival Keramik Dinoyo karena penasaran. Sebab selama ini siswi SMP Baitul Mal ini tahunya tempat wisata di Malang hanya Jatim Park saja.
“Saya baru tahu cara membuat gerabah ya disini, saya bersyukur bisa mengunjungi Festival Keramik Dinoyo,” ungkapTalita.


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...