Mahasiswa Keperawatan Wadul Dewan Soal Perlindungan Hukum

MALANG - Sebanyak 320 mahasiswa Keperawatan berdemontrasi di depan Kantor DPRD Kota Malang. Mereka menuntut pemerintah segera mengesyahkan undang-undang tentang keperawatan. Selain berorasi mereka juga melakukan aksi simpatik dengan membagi-bagikan bunga kepada para pengguna jalan. Aksi ini juga dilakukan untuk memperingati hari perawat dunia/ World Nurse Day yang jatuh pada hari tersebut.

Koordinator aksi, Dodik Ilyas mengatakan, hingga saat ini profesi perawat di Indonesia belum mendapatkan perlindungan hukum yang jelas karena belum ada undang-undang yang melindungi profesi mereka.
Selama ini ijasah keperawatan dari perguruan tinggi di Indonesia tidak diakui di negara lain. Kartena itu lulusan perawat dalam negeri tidak bisa bekerja sebagai perawat di luar negeri. Sedangkan 60 persen dari seluruh tenaga perawat saat ini tidak ada perlindungan hukum yang jelas di dalam negeri. "Kalau kami ingin bekerja di luar negeri, selama ini aturannya kami harus sekolah perawat dulu di negeri itu (luar negeri). Kondisi itu jelas memberatkan kami"ujar Dodik.
Mahasiswa keperawatan asal Universitas Muhammadiyah Malang ini menambahkan dengan tidak adanya payung hukum yang jelas, maka para perawat tidak bisa mendapatkan standart gaji yang pasti. Selain itu tidak adanya legalitas praktek keperawatan serta pengakuan negara lain atas profesi perawat asal Indonesia membuat pra mahasiswa ini tidak nyaman dalam menempuh studinya.
Para demonstran menuntut anggota DPRD Kota Malang untuk mendukung pengesahan RUU Keperawatan. Diketahui saat ini RUU ini masih dalam tahap penggodokan di DPR RI. Di Asia, hanya Indonesia dan Myanmar saja yang belum memiliki undang-undan g keperawatan.
Dukungan atas adanya payung hukum yang jelas ternyata juga datang dari kelompok medis dan anggota DPRD Kota Malang. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Malang berharap ada undang-undang yang menjelaskan tugas dan fungsi perawat. Ini dilakukan agar tidak terjadi tumpang tindih atas keberadaan perawat. Selain itu pasien juga akan mendapatkan penanganan yang tepat. Menurutnya hingga saat ini masih sering tercampur aduk antara kewajiban perawat dan dokter akibat luasnya wilayah yang belum terjangkau tenaga medis.
Hingga saat ini memang belum ada sosialisasi yang terbuka terkait keprofesionalitasan perawat. Padahal posisi mereka adalah mitra bagi dokter dengan bidang dan ilmu yang berbeda. Sementara tugas dokter adalah mendiagnosa dan menentukan terapi apa untuk pasien. Sedangkan perawat adalah melakukan perawatan sesuai dengan bahan baku dari dokter. .
Senada dengan ketua IDI, anggota Komisi D DPRD Kota Malang bidang kesejahteraan rakyat Lookh Makhfudz mengakui profesi perawat belumlah dianggap sebagai profesi yang setara dengan kesenjangan yang berbeda jika dibandingkan dengan dokter. Tanpa adanya aturan hukum profesi perawat, maka cenderung tidak diakui oleh negara luar. Sedangkan kebutuhan perawat Indonesia di luar negeri sangat tinggi. "Sayang jika kesempatan itu tidak diimbangi dengan dukungan berupa payung hukum dari pemerinta sendiri,” ujar Lokh Mahfud.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...