Mahasiswa Tolak RUU Intelijen di Depan Rumah Rakyat

MALANG - Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Pembebasan (Gema Pembebasan) menantang pengesahan Rancanagan Undang-Undang (RUU) Intelijen. Penolakan ini mereksa sampaikan dalam aksi demonstrasi yang digelar di depan kantor DPRD Kota Malang). Mereka menganggap bahwa UU intelijen ini merupakan bentuk sikap paranoid penguasa terhadap gerakan Islam ideologi.

Dalam orasinya, Gema Pembebasan menjelaskan bahwa di dalam RUU tersebut terdapat banyak frasa ataupun kata yang memiliki multi tafsir. "Setidaknya terdapat 25 pasal yang bermasalah dalam RUU tersebut sehingga pengesahannya harus ditolak dan dibatalkan,"ujar pengurus daerah Gema Pembebasab Malang Raya, Muhammad Maliki. Ia menambahkan bahwa jika RUU ini sampai disahkan menjadi UU maka sama saja dengan mengajak NKRI kembali seperti masa kepemimpinan orde baru. Karena UU ini bisa dijadikan pendukung dari penguasa untuk bertindak represif. Apalagi banyak isi di dalam RUU tersebut yang berpotensi menimbulkan penafsiran yang berbeda. Indikasi keinginan penguasa agar bisa bertindak represif juga sudah ditunjang dengan keberadaan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).
Gema Pembebasan menganggap badan ini senantiasa menuduh kelompok Islam radikal sebagai otak di balik berbagai aksi teror yang terjadi di tanah air. Gema juga menunjukkan sebuah fakta bahwa otak bom buku yang belakangan terungkap, ternyata disutradarai oleh Pepi Fernando. Adapaun Pepi sendiri adalah suami dari seorang pegawai di BNN. Fakta ini membuat aktivis menjadi kritis dan balik menuduh bahwa teror bom yang ada selama ini bertujuan untuk mengadu domba antara kelompok Islam dengan kepolisian. Maliki menambahkan bahwa isu bom merupakan sarana efektif untuk mengalihkan perhatian masyarakat. Isu bom mampu mengalahkan isu-siu besar yang tak kalah penting dalam membangun kehidupan berbegara. Misalnya, isu pembangunan gedung baru DPR, rencana kenaikan BBM, dan beberapa kasus korupsi yang dilakukan sejumlah pejabat.
Adapun isu tentang keberadaan Negara Islam Indonesia (NII) yang saat ini sedang santer diberitakan merupakan sebuah menu pemanis saja. isu ini diangkat ke permukaan untuk diambil isi politiknya saja. Karena isu ini bisa mendramatisir mendesaknya realisasi terhadap deradikalisai. Dengan adanya isu yang mengancam kedaulatan negara, maka akan mampu menarik simpatik dan dukungan rakyat untk segera merealisasikan RUU intelijen. Setelah lama berorasi di depan gedung wakil rakyat, ternyata tidak ada satupun wakil rakyat yang memberikan respon maupun menemui para demonstran. Tidak anggota dewan yang ada di sana saat terjadi demontrasi dengan alasan sedang ada kunjungan kerja. Padahal para aktivis Gema Pembebasan telah melayangkan surat pemberitahuan jika akan ada aksi damai di gedung dewan. baik itu pemberitahuan ke polisi maupun ke dewan.
 

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...