Masih Ada Ijazah Ditahan ? Cerita Kelulusan dan Penerimaan Serta PrestasiSiswa

SMAN 7 Malang Sempat Tahan Ijazah Siswanya

Terkait penahanan ijazah putra pertamanya yang bernama Menara Pangestu Ningati di SMA Negeri 7 Kota Malang, Nanang H.W (41th) warga Jalan Tapak Siring Gang 4 Kelurahan Samaan Kecamatan Klojen Kota Malang, Jum’at (10/6) mendatangi sekolah yang berada di Jalan Cengger Ayam I/14 Kota Malang itu untuk meminta agar kepala sekolah menyerahkan ijazah putranya.

Penahanan ijazah Menara ini menurut Nanang, karena anaknya tidak membayar uang perpisahan sebesar Rp 150 ribu beberapa waktu lalu. Alasan Nanang tidak membayar uang perpisahan itu karena menurutnya, acara perpisahan itu dilarang oleh pemerintah. Karena tidak membayar uang perpisahan akhirnya anak pria berambut gondrong ini tidak bisa “cap tiga jari’ ” ijazah dan tidak bisa mengambil ijazahnya.
Akibat dari ditahannya ijazah Menara tersebut, kata Nanang, anaknya tidak bisa mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Meski dalam SNMPTN tidak menggunakan ijazah asli, menurut pengakuan Menara, ia juga tidak mendapat surat keterangan lulus dari sekolahnya.
Sementara itu, kepala SMAN 7 Kota Malang, Asri Widiapsari membantah jika ada kabar penahanan ijazah beberapa siswanya. Menurut perempuan berjilbab ini, Menara memang belum mengambil ijazah, belum “tiga jari” dan juga tidak tertib administrasi, sehingga ijazahnya masih berada di sekolah. “Selain itu, juga tidak ada komunikasi antara Menara serta orang tuanya dengan pihak sekolah,” ujar Asri.
Asri menambahkan, bahwa pihak sekolah tidak akan mempersulit siswanya dalam berbagai hal, dan justru pihaknya akan membantu para siswanya jika mengalami masalah dalam proses belajar mengajar maupun masalah lain di sekolah. “Kami akan membantu apapun masalah siswa, terutama bagi siswa dari kalangan kurang mampu,” sambungnya.
Usaha Nanang ternyata tidak sia-sia untuk mendapatkan ijazah anaknya itu. Selang beberapa saat setelah Nanang dan Menara bertemu dengan kepala sekolah, akhirnya Asri Widiapsari memberikan ijin kepada Menara untuk segera ” cap tiga jari”. Setelah Menara memberikan cap di ijazahnya itu, Asri memberikan dispensasi pembayaran uang perpisahan dan menandatangani ijazah Menara. Ijazah pun langsung diserahkan kepada Menara oleh Asri saat itu juga.

Ijazah Ditahan, Istri Walikota Turun Tangan
Sehubungan penahanan ijazah karena tidak membayar uang perpisahan sebesar Rp 150 ribu, mengundang perhatian khusus Ketua Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA) Kota Malang Dra. Hj. Heri Pudji Utami, M.AP. Kejadian seperti ini seharusnya tidak terjadi di Kota Malang yang menyandang kota pendidikan dan berjuta prestasi di bidang pendidikan.

Menurut perempuan yang akrab disapa sebagai bundanya arek Malang itu, sebenarnya hal seperti yang terjadi di SMA Negeri 7 Kota Malang itu tidak boleh terjadi. “Meskipun sekolah mempunyai aturan yang mengikat terhadap peserta didiknya, akan tetapi pihak sekolah tetap harus berpihak dan membela para peserta didiknya, ujar istri Walikota Malang ini.
Perempuan berjilbab ini menambahkan, begitu juga apabila terjadi berbagai permasalahan atau ada siswa yang mempunyai masalah, maka pihak sekolah harus segera merespon dan memberikan solusi. “Kejadian-kejadian seperti penahanan ijazah ini tidak boleh terjadi lagi, dan jika Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang mengetahui hal ini, pihak sekolah dan juga kepala sekolahnya akan mendapat tegurann keras,” sambungnya.
Selaku Ketua GNOTA Kota Malang, Bu Peni langsung menghubungi Nanang H.W selaku orang tua Menara Pangestu Ning Gusti yang disinyalir menjadi korban penahanan ijazah di SMA Negeri 7 Kota Malang. Saat itu mereka dipanggil ke rumah dinas Walikota Malang di Jalan Ijen No. 2 Kota Malang untuk mengklarifikasi kejadian yang sebenarnya.
Sesampainya di Jalan Ijen 2, mereka ditemui langsung Ketua GNOTA Kota Malang. Setelah menceritakan kejadian yang sebenarnya, bahwa setelah melalui beberapa kali pertemuan dan setelah didampingi beberapa teman-teman dari jurnalis serta proses yang berliku-liku, akhirnya Nanang H.W bisa mengambil ijazah anaknya. Menara bisa menerima ijazahnya karena saat itu pihak kepala sekolah juga memberikan kompensasi pembayaran uang perpisahan.
Mendengar cerita itu, istri Walikota Malang itu sangat menyayangkan kejadian tersebut. Namun ia berjanji tidak akan memperpanjang permasalahan ini, dan sebagai Ketua GNOTA Kota Malang Bu Peni hanya bisa memberikan saran, masukan kepada Nanang dan Menara serta memberikan bantuan biaya sekedarnya kepada mereka.”Saya tidak bisa membantu banyak, dan meskipun ala kadarnya semoga bisa bermanfaat dan bisa membantu,” kata bu Peni saat memberikan bantuan kepada Menara.
Nanang H. W mempunyai 5 orang anak dan saat ini ada dua anaknya yang mau masuk SD dan SMP. Karena Nanang hanya sebagai buruh serabutan yang penghasilannya tidak tentu, ia merasa kesulitan keuangan untuk menyekolahkan kedua anaknya itu. Saat bertemu Ketua GNOTA inilah, akhirnya Nanang bisa sedikit bernafas lega karena Bu Peni akan membantu biaya pendidikan anaknya.
“Daftarkan dulu kedua anaknya di sekolah yang diinginkan dan setelah diterima ajukan kepada GNOTA untuk mendapat bantuan biaya pendidikan. Tolong juga dipenuhi juga prosedurnya, seperti melampirkan surat-surat yang dibutuhkan dari RT/RW. Kalau ada permasalah mengenai pendidikan tolong segera dikomunikasikan dengan pihak sekolah agar anak-anak kita bisa belajar dengan tenang,” kata Ibu Heri Pudji Utami.

Dinas Pendidikan Banyak Terima Permohonan Keringan Biaya Sekolah

Penerimaan siswa baru untuk SMK di Kota Malang sudah dimulai beberapa waktu lalu. Banyak warga masyarakat yang mengeluhkan mahalnya biaya pendidikan saat ini. Selama proses penerimaan siswa baru SMK digelar, Dinas Pendidikan Kota Malang setiap harinya mengaku menerima hingga 10 pengajuan keringanan biaya sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Dra. Sri Wahyuningtyas, M. Si mengatakan, jika memang wali murid tidak mampu, maka mereka tidak perlu takut untuk mengajukan permohonan keringanan pada pihak sekolah. “Asalkan yang mengajukan keringanan memang benar-benar miskin dengan menunjukkan kartu gakin, Jamkesmas atau Jamkesda, saya yakin pengajuan keringanan biaya sekolah itu akan diterima,” kata perempuan yang akrab disapa Yuyun ini.
Selain itu, kata Yuyun, bahwa pihaknya juga mengutamakan siswa yang berprestasi namun tidak mampu untuk mendapat keringanan biaya pendidikan. Dari 10 permohonan keringanan yang kami terima tiap hari tersebut, sebagian besar adalah meminta keringanan Sumbangan Biaya Pengembangan Pembangunan (SBPP) sekolah, dan tidak sedikit yang meminta untuk digratiskan,” sambungnya.
Sebenarnya, lanjut Yuyun prosedur permohonan keringanan bisa langsung mengajukan ke pihak sekolah. “Jika nantinya masyarakat menemukan sekolah yang menolak memberikan keringanan pada siswa miskin, sekolah yang bersangkutan bisa dilaporkan ke dinas pendidikan, dan pihak sekolah akan mendapat teguran keras,” tandas Yuyun.
“Oleh sebab itu, kami dari dinas pendidikan selalu dan terus akan menghimbau terkait permohonan keringanan biaya sekolah itu. Di samping itu, sekolah hendaknya juga tetap menjaga atau bahkan menaikkan mutu dan kualitasnya agar pendidikan kita selalu menjadi yang terbaik,” pungkas Yuyun.

Pendidikan Kota Malang Dapat Penghargaan Lagi
Meski seringkali mendapatkan perghargaan dalam bidang pendidikan, namun, dunia pendidikan di kota Malang, kadang masih menyisakan kepedihan, seperti yang dialami mantan siswa SMA 7 di atas.
Untuk kesekian kalinya Kota Malang memperoleh penghargaan di bidang pendidikan. Walikota Malang Drs. Peni Suparto, M.AP mewakili warga Kota Malang menerima penghargaan “Widya Karya Nugraha”. Kota Malang mendapat predikat terbaik di bidang pendidikan tingkat Provinsi Jawa Timur.
Menurut Ketua Komisi D, Christea Frisdiantara, bahwa penghargaan itu wajar diterima oleh Kota Malang, karena mutu pendidikan di Kota Malang memang bagus dan itu merupakan kebanggaan kita bersama sebagai warga Kota Malang. ”Kota Malang tidak perlu lagi diragukan mengenai pendidikannya, dan tidak hanya di tingkat provinsi, di tingkat nasional Kota Malang juga sering mendapat penghargaan,” ujar Christea.
Politisi Demokrat ini menambahkan, kalau boleh jujur, warga masyarakat Kota Malang selalu memprioritaskan pendidikan yang terbaik bagi putra-putrinya. “Bahkan para orang tua ini rela dan mau membayar mahal asalkan anaknya mendapat pendidikan yang bermutu, terutama bagi para orang tua yang ekonominya menengah keatas,” sambungya.
“Semakin banyak atau semakin seringnya Kota Malang mendapat penghargaan di bidang pendidikan, berarti mutu dan kualitas pendidikan di Kota Malang bagus dan harus dipertahankan atau bahkan lebih ditingkatkan lagi. Mempertahankan mutu pendidikan ini sangat berat dan tidak hanya menjadi tanggung jawab dinas pendidikan sebagai corongnya pendidikan, tapi tanggung jawab kita semua,” pungkas Christea.


Siswa Luar Biasa Lahirkan Berbagai Produk

Cacat fisik atau keterbelakangan mental tidak menjadi alasan bagi siswa-siswi SD Luar Biasa (SDLB), SMPLB dan SMALB yang berada di Jalan Ali Nasrudin nomor 2 Kedungkandang Kota Malang untuk berkarya. Tidak kalah dengan siswa normal lainnya, sisiwa dengan kebutuhan khusus ini ternyata bisa menghasilkan produk-produk yang sangat luar biasa.
Para pelajar ini  bisa menghasilkan berbagai kerajinan tangan dan juga berbagai makanan, seperti halnya aksesoris jilbab, bros, gelang, cincin, tempat pensil, sarung bantal, dan lain-lain dengan harga yang sangat terjangkau. Beberapa aksesoris yang terbuat dari manik-manik dipatok mulai harga Rp 5.000,- hingga Rp 25.000,-.
Sedangkan makanan atau lauk-pauk pun demikian, seperti halnya bothok, pepes ikan, pepes tongkol, susu kedelai, dan lain sebagainya. Menurut salah satu guru tata boga sekolah ini, Rusmiati, bahwa kerajinan dan berbagai ketrampilan siswanya ini dimulai sejak tahun 2006 lalu, dan hingga saat ini pihaknya terus berupaya untuk mengembangkan usaha ini.
Rusmiati menambahkan, hasil karya siswanya saat ini sudah bagus dan banyak jenisnya. Guru yang juga mengajar IPS ini mengaku masih terkendala dengan pemasaran produk hasil siswanya itu. “Selama ini kami masih memasarkan produk-produk ini di intern sekolah saja, seperti kepada wali murid dan juga koperasi sekolah. Kami juga telah bekerjasama dengan TP PKK Kota Malang dalam hal pembinaan serta selalu mengikuti even yang diadakan PKK untuk memamerkan produk kami,” ujarnya.
Tidak hanya itu, menurut Rusmiati, pihak sekolah juga memberikan berbagai keterampilan lain seperti halnya tentang salon, budidaya jamur, dan menjahit. “Dengan diajarkannya berbagai keterampilan ini, diharapkan tidak ada perbedaan antara anak normal dengan anak-anak berkebutuhan khusus dalam hal skill dan ketrampilannya,” imbuhnya.
“Selain itu, jika anak-anak sudah mempunyai berbagai keterampilan, juga bisa menambah uang saku mereka. Akan tetapi yang terpenting adalah, agar anak-anak ini kelak bisa diterima di masyarakat dengan baik, sama dengan warga masyarakat lainnya, dan alangkah lebih baiknya apabila mereka bisa membuka lapangan kerja baru,” harap Rusmiati.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...