Plus Minus Festival Malang Tempo Doeloe

Tahun Depan Malang Tempo Doeloe Tanpa APBD  

 
Tahun depan Festival Malang Kembali atau Malang Tempo Doeloe (MTD) tidak akan lagi disuntik dengan dana APBD. Usulan untuk itu juga sudah masuk ke DPRD dan legislatif akan segera membahasnya. Alasannya omset festival itu mencapai Rp 6 miliar.
 
Anggota komisi B DPRD Kota Malang, Pujianto, mengatakan, usulan pelaksanaan MTD tanpa dibantu APBD akan segera dibahas anggota dewan. Tentu saja dewan juga akan melibatkan semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan MTD itu. Antara lain, Pemkot Malang, kepolisian, Yayasan Inggil, maupun Dinas Pariwisata. "Akan kita lakukan evaluasi menyeluruh termasuk semua kekurangan yang ada dalam MTD selama ini,"jelasnya.
Ia menambahkan usulan penyelenggaraan MTD tanpa APBD ini karena omzet yang ada cukup tinggi, yakni hingga Rp 6 miliar. Selama ini dana APBD yang diberikan pada MTD berkisar Rp 650 juta. Dengan memaksimalkan potensi yang ada , Pujianto yakin bahwa MTD bisa berjalan tanpa bantuan APBD.
Menyikapi usulan ini, Kepala Dinas Pariwisata Kota Malang, Ida Ayu Wahyuni, mengatakan usulan ini tidak mudah untuk direalisasikan. Meskipun pelaksanaan MTD bisa menggandeng pihak sponsor, tetapi pemegang hak cipta MTD bukan Pemkot Malang maupun Dinas Pariwisata. Saat ini pemegang hak cipta MTD tetap ada pada Yayasan Inggil.
Dihubungi terpisah, pemilik Yayasan Inggil, Dwi Cahyono tidak mempermasalahkan jika penyelenggaraan MTD ke depan tidak lagi dibantu oleh APBD. Namun ia tetap meminta agar semua pihak yang terlibat tetap melaksanakan tugasnya masing-masing.
Yono (panggilan akrab Dwi Cahyono) menjelaskan bahwa Yayasan Inggil tetap siap melaksanakan tugasnya sebagai penyelenggara MTD. Termasuk mencari sponsorship dan donatur serta warga yang akan mengisi stan yang disediakan. Ia menilai usulan tersebut sebagai langkah maju untuk warga Kota Malang.
"Langkah ini nanti akan menjadi parameter atas kepedulian warga Kota Malang terhadap seni dan budaya yang dimilikinya," tambah Dwi.

Jati Diri Warga Kota Malang di Malang Tempo Doeloe
MALANG- Penyelenggarakan Festifal Malang Tempo Doeloe (MTD) 2011 yang akan diselenggarakan pada 19-22 Mei 2011 akan disterilkan dari pedagang kaki lima (PKL) yang selalu memenuhi pintu masuk MTD. Ini dilakukan untuk memperkuat nuansa kehidupan Kota Malang jaman dulu. Apalagi kali ini pihak panitia mengambil tema 'Discovering Heritage' yaitu,untuk menemukan jati diri warga Malang. Ini disampaikan ketua panitia MTD, Dwi Cahyono.
Diperkirakan MTD kali ini akan dikunjungi sekitar 2,4 juta wisatawan. Acara khas warga Kota Malang yang diselenggarakan di sepanjang jalan Ijen ini siap menampilkan berbagai macam jajanan dan kerajinan khas warga Malang jaman dulu, serta berbagai kesenian/ dolanan rakyat.
"Dan dari fakta yang ada kegiatan Malang Tempo Doeloe ini sangat digemari masyarakat bahkan hingga luar Kota Malang. Dan kali ini diperkirakan MTD akan dikunjungi 600.000 orang setiap harinya,"ujar Dwi Cahyono. Untuk itu ia bekerja sama dengan PT Bakrie Telecom, perusahaan seluler produsen Esia untuk menyukseskan acara ini.
Ia menambahkan bahwa penyelenggaraan tahun ini sudah yang keenam kalinya. Dan hingga  penyelenggaraan kelima, MTD sudah menyajikan hampir semua ciri khas malang jaman dulu yang dimiliki. Dan untuk tahun ini diharapkan tidak hanya produk yang ditampilkan tetapi jika mental sebagai warga Kota Malang. Karena itulah 'Discovering Heritage' dijadikan tema MTD tahun ini.
Demi terciptanya suasana jaman dulu, panitia akan menertibkan keberadaan PKL yang selalu membanjiri di depan pintu masuk MTD. Seperti pelaksanaan tahun sebelumnya, calon pengunjung MTD sudah ‘diserbu’ para PKL ini. Dan ketika mulai masuk arena MTD, pengunjung ini sudah kehabisan uang atau setidaknya uang saku sudah terkuras. Ternyata, calon pengunjung ini belum tahu bahwa keberadaan para PKL tersebut tidak termasuk dalam festival MTD.
Tak hanya itu, terciptanya suasana jaman dulu juga lebih ditekankan oleh penitia lewat penggunaan baju bercirikan jaman dulu. Selama ini warga menganggap pemakaian kostum jaman dulu identik harus pergi ke salon dengan menggunakan pakaian adat yang keberadaannya sudah langka.
Dwi Cahyono menjelaskan bahwa setiap warga/ calon pengunjung bisa mengenakan busana jalan dulu melalui pakaian yang sudah dimiliki. Karena itu ia akan mensosialisasikan lewat gambar di baliho tentang penggunaan pakaian-pakaian tersebut


Dua Sisia Malang Tempo Doeloe

Jalan Kota Malang MACET !

Acara Festival Malang Kembali atau Malang Tempo Dulu yang diadakan di Jalan Ijen membuat beberapa ruas jalan di kota Malang menjadi macet, Jumat (20/5/2011). Apalagi ditambah dengan diadakannya lomba drumband di depan Balai Kota Malang. Praktis, dibeberapa ruas, seperti Jalan Semeru, Basuki Rahmad, Trunojoyo, Patimura, Jaksa Agung Suprapto, dan sekitar Jalan Ijen. Meski lampu lalu lintas menyala, namun, tidak berfungsi maksimal, karena kepadatan kedanraan ada dimana-mana.
Dari pengamatan Malang News di lapangan, kendaraan yang menuju ke Balai Kota Malang harus berputar balik karena di Jalan Kahuripan terjadi penumpukan kendaraan yang melimpah. Dengan memutarnya kendaraan ini, kemacetan semakin menjadi-jadi, karena saling serobot. Kemacetan semakin bertambah, saat sore hari, karena waktu pekerja pulang kerja.


Rumah Walikota Dikepung Sampah Jalan Ijen Bau Peceren

Pestanya warga kota Malang sudah usai, Festival Malang Kembali ke VI sudah selesai. Namun, pada pukul 00.00 WIB lebih, masih nampak Jalan Ijen ramai orang mondar mandir dan para pekerja membongkar stand. Dari acara ini, yang tersisa adalah sampah yang menggunung dimana mana. Selain itu, beberapa stand makanan dipastikan, bau air yang tidak enak pasti tercium. Di sekitar rumah dinas Walikota Malang di Jalan Ijen nomor 2, sampah juga bertebaran dan bau yang menyegat. Tidak terlihat tempat sampah yang menampungnya. Hanya dilempar dan ditinggal begitu saja di atas jalan.

Jajanan Lama Muncul di Jalan Ijen
Anak-anak muda mungkin tidak tahu apa itu jajanan yang bernama Arbanat. Namun, bagi orang tua, Arbanat dulunya merupakan salah satu makanan favorit. Berasal dari olahan gula pasir, biasanya berwarna pink. Makanan ini biasa dijual di kampung-kampung oleh seorang penjual dengan alat musik khasnya. Alat musik hampir seperti biola, namun, nadanya hanya berbunyik, ngik ngok terus. Di Festival Malang Kembali di Jalan Ijen Kecamatan Klojen, beberapa stand menjual Arbanat ini. Pembelinya kebanyakan orang tua yang dulunya menjadikan Arbanat sebagai jajanan favoritnya.

 

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...