Profil Anggota DPRD Kota Malang : SUTIAJI

Dalam dua tahun terakhir, Pendidikan Karakter menjadi isu utama
pengembangan pendidikan nasional. Tema ini pula yang ditegaskan oleh
Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) dalam dua tahun terakhir
saat memeringati Hari Pendidikan Nasional. Uniknya, sampai sekarang,
rumusan tentang pelaksanaan pendidikan karakter hingga pada tingkat
satuan pendidikan, belum (mampu) menemukan bentuk.
Banyak pendapat dari berbagai kalangan yang memperkaya perumusan
metodologi pendidikan karakter. Ada yang mendorong perlunya
dibangkitkan kembali pelajaran budi pekerti. Ada pula yang menempatkan
pentingnya pendidikan Agama dan moral. Bahkan muncul motivasi kuat
untuk menanamkan kembali ideologi Pancasila sebagai modal penguatan
karakter kebangsaan.
Dalam pandangan praktisi pendidikan Drs Sutiaji, pendidikan karakter
akan lebih baik bila didasarkan dari identifikasi potensi anak didik.
Sebab, setiap anak didik memiliki potensi yang berbeda dan tidak bisa
disamakan. Di sisi lain, keberhasilan pendidikan karakter amat
dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Karenanya, dengan penanaman
karakter yang sesuai potensi anak akan turut memengaruhi lingkungan
sekitarnya.

Pendidikan karakter menjadi isu besar pendidikan nasional dalam dua
tahun terakhir. Ini tampak dari komitmen Kemdiknas yang mengusung isu
ini sebagai semangan Hardiknas dua tahun terakhir. Bagaimana pandangan
Anda tentang hal ini?
Bagi saya, lunturnya pendidikan karakter itu dimulai saat sistem
pendidikan nasional kita mulai melakukan diskriminasi; yakni adanya
dimensi pendidikan ‘akhirat’ yang diwakili kelembagaan pendidikan
keagamaan, dan dimensi pendidikan ‘duniawi’ yang diwakili oleh
kelembagaan bernama sekolah. Padahal dua hal ini tidak seharusnya
dipisah; ilmu pengetahuan dan agama bukanlah dua hal yang saling
bertentangan sehingga harus dikembangkan sendiri-sendiri. Dan paling
penting bahwa Tuhan sendiri tidak mendiskriminasikan pendidikan dalam
dua dimensi itu.

Apakah ini berarti bahwa pendidikan agama yang memegang peran penting
saat kita membincang arah dari pendidikan karakter sekarang ini?
Iya, agama jelas memegang peran penting dalam pendidikan karakter.
Namun peran penting agama itu sebagai landasan atau fondasinya. Nilai
agama perlu dikenalkan dan ditanamkan sebagai modal dalam membentuk
karakter anak didik. Karena itulah, dalam Islam misalnya, bahwa saat
anak dalam kandungan sekalipun, nilai agama sudah harus dikenalkan.
Saat anak lahir, dalam Islam, anak sudah harus diazani dan juga
iqamah.

Lalu dalam konteks sistem pendidikan kita, yang mengenal penjenjangan
kelembagaan pendidikan beserta kurikulumnya, bagaimana pola pendidikan
karakter ini seharusnya ditanamkan?
Prinsipnya, termasuk juga dalam Islam, tanamkan karakter sesuai dengan
potensi anak. Ini penting dipahami sebab Tuhan itu menciptakan manusia
dengan tidak sama. Dan potensi setiap anak ini harus dikembangkan dan
jangan digeneralisir. Karakter yang akan bisa dibangun dari pendekatan
ini adalah anak mengenali, mengembangkan, dan memiliki kebanggaan pada
potensinya. Kelemahan sistem pendidikan kita, potensi anak
digeneralisir dan tidak mampu teridentifikasi dengan baik. Sehingga
anak diajarkan banyak hal dan tanpa ada kemampuan yang sama baik. Pada
banyak negara, potensi anak itu dikembangkan dengan baik sampai pada
tingkat mahir dan berprestasi. Inilah yang mampu menumbuhkan kebanggan
pada diri anak.

Anda menyebut bahwa salah satu kelemahan sistem pendidikan kita adalah
mengeneralisir potensi anak. Bagaimana sebenarnya Anda memandang pola
pendidikan kita dalam mengembangkan potensi anak itu?
Pendidikan kita, baik yang di lembaga pendidikan maupun mindset yang
dimiliki orang tua, menempatkan anak ibarat wadah. Pendidikan itu
instrumen yang dituangkan dalam wadah tersebut. Dengan pendekatan yang
hanya mengedepankan aspek kognitif, proses penuangan ini membuat anak
menjadi takut bukan menghormati. Padahal pendidikan, itu harusnya
menempatkan anak ibarat tumbuhan. Lembaga pendidikan termasuk orang
tua yang berperan untuk mengawal, menjaga, dan memfasilitasi agar bisa
tumbuh sesuai dengan fitrahnya. Ini barangkali sebuah perumpamaan yang
ideal dalam mengembangkan pendidikan bagi anak.

Namun goal dari pendidikan karakter tentu bukan dalam konteks
individu. Pendidikan karakter juga melingkupi sistem sosial. Apakah
bisa dikaitkan antara pengembangan potensi ini dengan pembentukan
karakter sosial?
Inti dari sebuah sistem sosial atau lingkungan masyarakat adalah
kehadiran individu. Pada saat setiap individu sudah mampu ditanamkan
karakter yang berbasis pengembangan potensi dirinya, maka akan turut
memberi warna sekaligus perubahan pada lingkungan itu. Dalam Islam,
setiap individu itu memiliki peran dalam ukhuwah insaniyah dan ukhuwah
wathaniyah. Ini berarti bahwa setiap individu akan mampu memberi
pengaruh pada lingkungannya, baik dalam skala kecil di keluarga,
masyarakat, hingga sebagai sebuah bangsa.

Masalah berikutnya terletak pada bagaimana penanaman karakter dengan
pendekatan potensi anak itu bisa secara maksimal. Menurut Anda apa
kuncinya?
Kuncinya terletak pada perubahan mindset. Dalam lingkup kelembagaan
pendidikan, perubahan mindset pendidik itu sangat penting. Sementara
di lingkungan, perubahan mindset masyarakat harus turut mendukung.
Pada tahap ini, sudah ada langkah positif. Tenaga pendidik sudah mulai
diarahkan dan dibekali untuk memiliki mindset pendidikan antisipatif.
Sementara pada masyarakat, sudah banyak lembaga yang turut melibatkan
mereka dalam merancang pendidikan yang komperehensif bagi anak.

Bila merujuk pada pandangan mendasar Anda di awal tadi bahwa sistem
pendidikan kita masih diskriminatif antara agama dan pengetahuan,
tidakkah perlu dilakukan perombakan secara sistem pada pendidikan
nasional kita?
Secara sistem, ya, harus ada revolusi dalam sistem pendidikan nasional
kita. Namun tahap implementasinya lebih baik mengedepankan prinsip
evoluasi. Sebab jika dilakukan revolusi menyeluruh, biaya sosialnya
teramat tinggi. Terlebih bahwa ini adalah pendidikan, sebuah proses
yang tidak akan pernah berhenti. Karenanya, pelaksanaan dari perubahan
sistem itu, lagi-lagi, harus berjalan sesuai dengan kondisi dan
kearifan lokal yang ada. Ini yang saya sebut evolusi tadi. Dan sudah
tampak kok, ada banyak terobosan positif dalam pelaksanaan sistem
pendidikan nasional kita, meski secara sistem itu bahkan belum ada
perubahan. Sebut misalnya soal PAKEM.

Terakhir, apa ukuran ‘puncak’ dari keberhasilan pendidikan karakter?
Sebuah ketakwaan. Ketakwaan dalam arti luas adalah sebuah kepatuhan,
ini bisa berarti luas juga; patuh pada pimpinan, patuh pada aturan,
dan patuh pada nilai dan norma hukum. Ketakwaan juga bermakna berbuat
baik dan tidak berbuat jahat, ini tentu sebuah nilai universal yang
harus ditaati dalam konteks kehidupan sosial. Saya kira itu,
pendidikan karakter yang berhasil ditandai dengan lahirnya anak didik
yang memiliki ketakwaan. (*)
biodata

Nama        : Drs Sutiaji
Lahir        : Lamongan, 13 Mei 1964
Alamat        : Jl MT Haryono V/254 C Malang
Pendidikan    : Madrasah Ibtidaiyah di Lamongan
: Madrasah Tsanawiyah di Lamongan
: Madrasah Aliyah Tambak Beras Jombang
: S1 Pendidikan Agama IAIN Sunan Ampel Malang
Karir        : Ketua FKB DPRD Kota Malang
: Anggota Komisi D DPRD Kota Malang
: Wakil Sekretaris PCNU Kota Malang
Keluarga    : 1 Istri 4 Anak

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...