Profil : Dra RM Een Ambarsari

 Wanita Harus Mampu Mewarnai Dunia Politik

Mungkin dunia politik bagi kalangan  kebanyakan wanita masih dianggap hal yang jauh dari impian. Meski beberapa dekade sejak era perlawanan terhadap kolonialis Belanda, sudah banyak tokoh wanita yang terlahirkan, seperti RA Kartini, Cut Nya Dien dan beberapa tokoh lainnya. Namun, bagi wanita kini  yang lebih penting adalah mengurus keluarga bagaiamana menyukseskan pendidikan anak-anaknya.

Namun, bagi Een Ambarsari hal ini dibantah, karena saat ini wanita tidak hanya sekedar sebagai pelengkap dari kehidupan berkeluarga. Tetapi, sudah saatnya wanita memberikan warna bagi dunia perpolitikan di negeri Indonesia, minimal di kota Malang. Salah satu langkah kongkrit Een, wanita berumur 43 tahun ini, adalah masuk ke dalam areal legaslatif dengan menjadi anggota DPRD Kota Malang.
Dengan masuk ke dalam dunia perpolitikan dan masuk sebagai anggota dewan legislatif, maka bagi Een adalah sebagai salah satu bentuk dari mewarnai dunia  berpolitikan.
Awalnya, bagi Een masuk ke dunia politik adalah sangat canggung.Bahkan, beberapa kali dirinya merasakan kepenatan dan stress kala menghadapi ruwetnya dunia politik, meski sekelas kota Malang. Namun, berkat bimbingan dari Taufik Bambang, suaminya, yang salah satu sosok politik di kota Malang, akhirnya ibu tiga anak ini mampu menangangi kebuntuhan.
Keinginannya memasuki dunia politik di kota Malang adalah karena quota wanita yang duduk dibangku dewan meningkat. Berawal dari ini, dirinya masuk ke Partai Gerindra, yang tergolong masih baru. Namun, sambutan dari masyarakat terhadap dirinya dan partai barunya cukup antusias. Hal ini dibuktikan Een mampu meraup 1 kuris untuk wilayah Kecamatan Sukun.
Meski dirinya sudah masuk dan duduk di kursi dewan, menurut wanita berjilbab ini, quota tersebut masih belum sepenuhnya terpenuhi untuk kaum wanita. Karena saat ini di dewan kota Malang kalau dihitung masih kurang anggota parlemen yang berasal dari wanita.
''Ya kalau awal masuk ke dalam dunia politik pasti akan mengalami stress. Dan itu wajar. Makanya, saya belajar dari beberapa tokoh politik wanita di dewan. Banyak, anggota dewan yang sudah lama di gedung DPRD Kota Malang ini. Saya belajar dari mereka. Selain, tentunya dari suami tersayang,'' jelas Een Ambarsari kepada Parlemen News.

Beberapa Binaan Yang Menjadi Icon Kota Malang

Menjadi anggota dewan ternyata tidaklah semudah yang dibayangkan Een Ambarsari, banyak sekali sorotan masyarakat tentang anggota DPRD yang miring. Sebagai wanita, dirinya berusaha untuk menepis anggapan pesimistis masyarakat tersebut. Salah satunya dengan membuat desa-desa binaan. Dengan berkumpul para ibu di kelurahan yang ada, Een berharap mampu juga meningkatkan taraf hidup para ibu-ibu, terutama di sekitar rumah tinggalnya di kawasan Kelurahan Gadang.
Salah satu usaha yang telah digelutinya adalah dengan memberdayakan masyarakat Gadang untuk bisa membantu pendapatan suami. Yaitu dengan membina kampung batik khas kota Malang. Apalagi, batik khas kota Malang ini  bisa dikatakan sudah hampir musnah. Karena para pengerajin batik khas kota Malang sudah mulai banyak gulung tikar.
''Sebenarnya, usaha batik khas Malang ini menjanjikan. Namun, masih kurang dalam soal manajemen dan marketing. Dan batik khas Malang tidak kalah bagusnya dengan batik-batik asal Jawa Tengah,'' ungkapnya.
Di Kelurahan Gadang, usaha pemberdayaan batik khas kota Malang ini mendapatkan dukungan dari masyarakat setempat. Hasilnya, batik bikininan ibu-ibu Kelurahan Gadang mulai mampu bersaing dengan batik-batik produksi dari Jawa Tengah.
Selain desa binaan batik di Kelurahan Gadang, politisi wanita ini juga meningkat desa binaan di beberapa kelurahan lainnya terutama yang ada di Kecamatan Sukun. Salah satunya, di kawasan Keluruhan Sukun, ada beberapa pengerajin makanan ringan, yang masyarakat kota Malang menyebutnya cilok atau penthol bakso. Alasannya membuat binaan pengerajin dan penjual cilok ini, Een mengaku, untuk meningkatkan pendapatan dari para penjual cilok, termasuk juga memberikan pengertian bagaimana dari sisi kesehatan untuk memproduski cilok yang kesukaan anak-anak itu.

Bagaimana Cara Menyelesaikan Urusan Keluarga
Soal keluarga bagi wanita berumur 43 tahun ini adalah nomor 1, meski dirinya sekarang juga merupakan ibu dari warga kota Malang yang diwakili aspirasinya. Menurutnya, para ibu yang memberikan mandatnya kepada dia adalah keluarga sendiri. Sehingga, mereka juga merupakan prioritas. ''Karena keluarga, mereka juga merupakan prioritas utama,'' kata dia.
Sebagai seorang ibu dan anggota dewan yang sering rapat dan kunjungan kerja serta kesibukannya sebagai ibu dari ibu-ibu lainnya, dia  harus bisa mengatur waktunya. Salah satu contohnya, ketika ada pertemuan dengan warga lain seperti pengajian dan saat itu anggota keluarganya membutuhkan, dia akan berusaha memenuhi semua kebutuhan yang ada di rumah.
''Intinya adalah komunikasi dengan orang rumah. Kalau seperti ada rapat sampai malam dan anak-anak harus makan atau menyelesaikan pekerjaan rumahnya, maka saya kirim sms atau telpon bagaimana kegiatan belajaranya. Komunikasi itulah yang terpenting,'' papar Een.


Data :
Suami  : Drs A Taufik Bambang DHT (47 tahun)
Anak :
  1. Furqondari Cahyani Anjarsari (18 tahun) Kuliah di Unversitas Negeri Malang
  2. Nurisnaini Sekararum (16 tahun) SMA Kelas 2
  3. Nabilla Intan Pratiwi (8 tahun) SD
Alamat : Jalan Kolonel Sugiono VI / 5a Kelurahan Gadang Kecamatan Sukun

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...