Eka Satriya Gautama, Tetap Berjuang Meski Sakit Membelenggu

Rasa sakit terasa hilang ketika harus berjuang demi sebuah keyakinan. Demikianlah yang dialami oleh Drs Eka Satriya Gautama, MH, politikus dari PDI Perjuangan asal Kecamatan Sukun. Meski mengalami sakit yang cukup parah, anggota DPRD Kota Malang tetap berjuang dalam perhelatan pemilu kemarin. Akhirnya, setelah berjuang cukup keras, Eka Gautama akhirnya berhasil mendapatkan kembali kursi dewan dan berhasil kembali mempertahankannya. Politisi PDI Perjuangan yang tinggal menunggu waktu dilantik menjadi anggota dewan untuk periode keempat ini pun disebut sakit yang sakti lantaran meraup 4.200 suara di dapilnya, Sukun. Betapa tidak, disaat masa kampanye, Eka harus menjalani kemoterapi lantaran diserang sakit serius.
Dibelenggu sakit serius disaat harus sering melakukan sosialisasi, semangat Eka tak ikut sakit. Bahkan semangatnya terus dan semakin membara serta penuh gairah dalam menemui pemilihnya.
Sakit yang menyerang Eka dimasa kampanye berawal dari tiga tahun lalu. Saat itu, ketua Komisi C DPRD Kota Malang ini divonis terkena nasofaring.  Yakni sejenis tumor yang menyerang rongga belakang hidung dan belakang langit-langit mulut.  Setelah melalui pengobatan serius, Eka kembali sehat.
Tapi masalah belum selesai. Jelang masa kampanye, tubuhnya yang sudah sehat kembali diserang penyakit. Kali ini giliran  tulang belakang. Menurut dokter, proses sinar X terhadap nasofaring yang diderita belum tuntas.
Ia harus menjalani kemoterapi di sebuah rumah sakit selama enam kali lantaran penyakit yang diderita sebelumnya sempat berpindah ke tulang belakang. “Solusinya, saya kemo setiap 21 hari,” ucapnya. Proses kemoterapi berlangsung di masa kampanye.
Sebelum menjalani kemoterapi, ayah dua anak ini kerap merasakan sangat sakit pada tulang belakang. “Sakitnya sangat. Sangat sakit. rasanya nyeri dan linu sangat,” kenang Eka.
Disaat melawan penyakit, pria berusia 48 tahun ini harus geriliya untuk memenangkan pemilu legislatif. Beban yang ditanggungnya tak ringan. Selain harus mempertahankan kursi dewan, Eka wajib memenangkan PDI Perjuangan di Sukun. Sebab dirinya adalah ketua PAC PDI Perjuangan Sukun.
“Saya sempat tak punya waktu untuk turun. Tapi teman-teman saya tidak tinggal diam. Mereka sangat loyal, mereka luar biasa. Mereka yang turun lapangan,” kata Eka penuh kagum kepada teman-temannya.
Jumlah loyalis Eka sekitar 400 orang menjadi pelaksana operasi pemenangan. Strategi disusun bersama walau sedang sakit. Saat harus terbaring di rumah sakit pun, Eka tetap semangat mendiskusikan tentang strategi pemenangan.
“Saya juga sempat turun ke masyarakat walau sedang sakit. Strategi yang kami gunakan door to door. Tim saya juga menjalankan strategi ini secara maksimal,” katanya. “Strategi lain yakni perkoncoan. Teman-teman saya menggunakan jalur keluarga dan teman-teman yang setia mendukung,” sambung Eka.
Dia sangat merasakan peran teman-temannya. Bahkan teman-temannya yang membantu saat pileg lima tahun lalu juga masih setia di pileg tahun ini.
Eka kini mulai sembuh. Namun pengalaman sakit jelang pileg bukan baru sekali yang dialami. Lima tahun lalu, Eka harus dirawat di rumah sakit lantaran harus pengobatan batu ginjal.
“Semuanya ini sudah kehendak Tuhan. Jadi saya dan teman-teman hanya berjuang dan Tuhan yang menentukan,” katanya bersemangat.
Mantan Ketua Fraksi PDI Perjuangan ini  pun bagai pemecah rekor diantara sesama teman-temannya di gedung dewan. Ia sakti saat sakit. Dan kini bakal menjadi salah satu anggota DPRD Kota Malang dengan masa tugas paling lama dari dapil Sukun.
Eka pertama kali menjadi anggota dewan pada periode 1999-2004. Pada periode 2004-2009 kembali terpilih. 2009-2014 juga memenangkan pemilu legislatif. Kini ia tercatat sebagai peraih suara terbanyak di PDI Perjuangan untuk dapil Sukun periode 2014-2019.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...