Malang News

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Error
  • Error loading feed data.
BERANDA BATU batu Petani Sayur Menjerit Hasil Panen Rusak

Petani Sayur Menjerit Hasil Panen Rusak

User Rating: / 0
PoorBest 
malangnews.com - Hujan yang terus mengguyur Kota Batu  enam minggu terakhir membuat hasil sayuran di kota wisata dan pertanian ini tidak bisa maksimal. Akibatnya, sekitar sebulan terakhir hasil pertanian sayuran seperti cabe, kubis, tomat dan kentang asal kota ini tidak layak untuk dikirim ke luar pulau.

“Karena tidak bisa terpenuhi hasil sayuran dari Kota Batu, untuk memenuhi permintaan luar pulau harus mencari dari luar kota. Untuk  kubis ambil dari Situbondo, tomat ambil dari Probolinggo. Hanya wortel saja yang mengambil dari Kota Batu,” kata Hari Danah Wahyono, pedagang sayur yang biasa mengirimkan ke pulau Kalimantan ini di Batu, Rabu (21/12).

Sebenarnya, kata Hari, hasil pertanian dari Kota Batu ini tetap ada, hanya saja karena terkena hujan terus-menerus menjadi mudah membusuk. Dengan demikian tidak cocok kalau dikirim keluar pulau yang memakan waktu cukup lama.  

“Kita tidak berani melakukan spekulasi. Kalau dipaksakan tentukan akan merugikan pedagang. Solusi yang kami ambil yang membeli dari petani-petani diluar Kota Batu atau daerah Kecamatan Pujon Kab Malang,”kata Hari yang mengaku setiap hari kirim sayur ke Banjarmasin, Palangkaraya dan Batu Licin mencapai 25 ton.

Selain itu, lanjut dia, karena hujan ini pula harga-harga sayur jadi meningkat tajam. Untuk tomat yang biasanya harganya Rp 3-5 ribu/kg naik menjadi Rp 10-12 ribu/kg. Sedangkan untuk kubis yang biasanya sekitar Rp 2 ribu naik menjadi Rp3,5 ribu/kg dan wortel yang biasanya seharga Rp 2,5 ribu/kg naik menjadi Rp3,5 ribu/kg.

Terpisah, Riyadi,  petani asal Desa Pesanggrahan Kota/Kec Batu, mengatakan saat ini hasil panenan memang relatif menurun, sementara permintaan pasar melonjak.  Terutama untuk kubis dan bawang merah.

“Memang untuk pedagang besar yang melayani kiriman luar pulau tidak mau dari kami. Meski demikian permintaan di pasar Batu sendiri cukup besar. Bahkan harganya sempat naik dari sebelumnya,” jelasnya.  

Terpisah, Abdul Maji, salah seorang ketua kelompok tani di Kelurahan Temas Kota Batu, mengatakan jika hujan yang disertai kabut membuat sejumlah tanaman seperti kubis dan bawang merah diserang ulat. Kondisi ini membuat petani harus rela merogoh kocek untuk membeli obat-obatan pembasmi hama yang relatif mahal seperti Laser yang per 100 ml dan Folidu per kg harganya mencapai Rp80.000. “Mau apalagi kalau memang harus begitu,”kata dia seperti menyerah kepada kondisi alam.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kota Batu, Sugeng ketika dikonfirmasi  mengatakan permasalahan ini sudah kerapkali terjadi ketika masuk musim penghujan. “Permasalahan ini tidak perlu dibesar-besarkan,”kata dia singkat. [tulisan juned]